Mahasiswa Informatika Telkom University Gelar Edukasi Keamanan Digital di SMAN 1 Baleendah lewat Simulasi “Phishing Games”

Rabu, 30 April 2026


Lima mahasiswa Program Studi S-1 Informatika Telkom University datang ke SMAN 1 Baleendah bukan untuk mengajar pelajaran biasa. Mereka membawa simulasi — sebuah web yang sengaja dirancang untuk mengelabui penggunanya, tapi dengan maksud yang sebaliknya: supaya peserta tahu rasanya hampir tertipu, sebelum hal itu benar-benar terjadi di luar sana.


Tentang Program IUM

Kegiatan ini bagian dari program Informatika untuk Masyarakat (IUM), pengabdian masyarakat yang rutin dijalankan mahasiswa Fakultas Informatika Telkom University setiap semester.

Kelompok IUM26-048, diketuai Aryo Jaty Pamungkas, datang berlima bersama Mohammad Faraja Ahdaf, Nada Nabilah, Galih Anggito Abimanyu, dan Falah Razan Hibrizi. Seluruh kegiatan berjalan di bawah bimbingan Bintang Vieshe Mone, M.Kom., dosen dari kelompok keahlian Data Science and Intelligent Systems.

Mereka memilih tema keamanan digital bukan karena topiknya sedang tren, tapi karena masalahnya nyata dan belum banyak disentuh di lingkungan sekolah. Fokusnya tiga hal: perlindungan data pribadi, pengenalan serangan phishing, dan manajemen kata sandi.


Mengapa Keamanan Digital Penting di Sekolah?

Sekolah sudah lama bergantung pada teknologi digital jauh sebelum pandemi, dan makin dalam setelahnya. Absensi online, pengumpulan tugas lewat Google Classroom, grup WhatsApp kelas, akun-akun yang terhubung ke data siswa — semuanya memudahkan, tapi menyimpan celah yang jarang diperhatikan: sebagian besar penggunanya belum pernah mendapat pelatihan soal keamanan digital sama sekali.

Di SMAN 1 Baleendah, kondisinya tidak jauh berbeda dari sekolah-sekolah lain:

  • Masih ada yang memakai kata sandi yang mudah ditebak
  • Satu kata sandi yang sama dipakai untuk banyak akun sekaligus
  • Tautan mencurigakan yang masuk lewat WhatsApp atau email masih sering diklik tanpa dicek dulu

Kebocoran data pribadi, penyalahgunaan identitas, akun yang tiba-tiba dibobol — bukan cerita di berita luar negeri. Sudah terjadi di banyak tempat, termasuk di kalangan pelajar.


Rangkaian Materi Kegiatan

Sesi dibuka dengan pre-test sebagai baseline untuk mengukur seberapa jauh pemahaman peserta bergeser setelah kegiatan selesai.

1. Perlindungan Data Pribadi

Peserta belajar apa saja yang masuk kategori data sensitif, kenapa data itu bernilai di mata peretas, dan apa yang bisa terjadi kalau tersebar sembarangan. Semua dikaitkan dengan hal yang peserta lakukan setiap hari — mengisi formulir pendaftaran online, login ke aplikasi sekolah, mendaftar akun media sosial.

2. Pengenalan Serangan Phishing

Peserta diajak mengenali pola serangan yang sudah umum tapi masih sering berhasil: URL yang terlihat mirip situs asli tapi beda satu karakter, halaman login palsu yang desainnya meyakinkan, hingga teknik spoofing — bagaimana nama pengirim email bisa dimanipulasi supaya terlihat seperti institusi resmi.

3. Manajemen Kata Sandi

Bukan tip generik soal kombinasi karakter. Peserta diajari konsep passphrase: rangkaian kata yang panjang, mudah diingat, dan jauh lebih susah dibobol. Mereka juga belajar pentingnya autentikasi dua faktor (2FA) sebagai lapisan keamanan yang seharusnya jadi kebiasaan.


Highlight: Simulasi “Phishing Games”

Bagian yang kemungkinan paling diingat peserta adalah saat mereka duduk di depan layar, membuka simulasi, dan hampir salah.

Tim IUM26-048 membangun sendiri platform web bernama “Phishing Games” — simulasi yang menampilkan berbagai halaman login, di mana peserta diminta memutuskan: ini situs resmi atau jebakan? Tidak ada petunjuk, tidak ada kisi-kisi. Persis seperti kondisi aslinya.

Pendekatannya sengaja dibuat berbeda dari edukasi siber yang biasanya. Peserta langsung dihadapkan pada situasi nyata menggunakan perangkat mereka sendiri, dan harus mengambil keputusan sendiri. Kalau salah, mereka merasakannya sendiri — dan itu jauh lebih berkesan daripada sekadar mendengar peringatan.

Platform ini juga tidak langsung ditutup setelah hari H. Sekolah masih bisa mengaksesnya selama satu bulan — cukup untuk latihan mandiri siswa baru, atau guru yang tidak sempat hadir saat kegiatan berlangsung.


Penutup

Di akhir sesi, peserta mengerjakan post-test dan mengikuti kuis interaktif berhadiah. Panitia memberikan apresiasi kepada peserta dengan skor terbaik — cara sederhana untuk memastikan fokus peserta tidak turun justru di penghujung acara.

Melalui kegiatan ini, diharapkan kesadaran dan pemahaman peserta mengenai keamanan digital dapat terus meningkat sehingga mampu mengenali serta menghindari berbagai ancaman siber yang semakin berkembang. Dengan pemanfaatan teknologi yang bijak dan aman, lingkungan pendidikan dapat menjadi ruang digital yang lebih terlindungi, produktif, dan mendukung proses pembelajaran di era transformasi digital.

farajaahdaf@student.telkomuniversity.ac.id
farajaahdaf@student.telkomuniversity.ac.id
Articles: 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *