BANDUNG – Persoalan sampah di wilayah perkotaan bukan lagi sekadar masalah teknis pengangkutan, melainkan tantangan besar dalam mengubah perilaku dan budaya masyarakat. Menanggapi urgensi tersebut, pada tanggal 18 Desember, Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial (FKS) Telkom University mengambil langkah nyata dengan menggelar diskusi strategis bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung. Bertempat di Ruang Rapat DLH Kota Bandung, Jl. Sadang Tengah No. 4–6, Sekeloa, Kecamatan Coblong, pertemuan ini menjadi wadah kolaborasi untuk mematangkan toolkit komunikasi yang akan menjadi senjata utama dalam memperkuat program “Kang Pisman”.
Pendahuluan
Sejak diluncurkan, program “Kang Pisman” (Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan) telah menjadi ikon gerakan lingkungan di Kota Bandung. Namun, dalam implementasinya, tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana menjaga konsistensi warga agar tidak hanya sekadar tahu, tapi juga mau bergerak secara mandiri. Kesenjangan antara pengetahuan dan tindakan inilah yang coba dijembatani oleh tim Pengabdian Masyarakat (Abdimas) dari Telkom University. Melalui pendekatan disiplin ilmu komunikasi, kolaborasi ini bertujuan untuk merancang sebuah instrumen edukasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga mampu menyentuh sisi psikologis dan emosional warga, sehingga pengelolaan sampah dari sumbernya menjadi sebuah gerakan akar rumput yang organik dan berkelanjutan.
Isi/Pembahasan
- Bedah Strategi Bersama Pakar Dosen Ilmu Komunikasi
Diskusi yang berlangsung hangat tersebut dipandu oleh Dr. Nur Atnan, S.I.P., M.Sc., selaku Ketua Tim Abdimas. Beliau menekankan bahwa hambatan utama komunikasi publik seringkali terletak pada pesan yang terlalu teknis dan sulit dicerna oleh masyarakat awam. Oleh karena itu, diperlukan sebuah panduan atau toolkit yang terstandarisasi untuk menyeragamkan narasi di tingkat kewilayahan.
Proses perumusan ini juga diperkuat oleh kontribusi pemikiran dari Ayub Ilfandy Imran, B.Sc., M.Sc., Ph.D. dan M. Al Assad Rohimakumullah, S.I.Kom., M.I.Kom. Para akademisi ini mengkaji bagaimana strategi komunikasi lingkungan dapat diintegrasikan dengan media digital dan pendekatan interpersonal. Fokus pembahasannya meliputi penyusunan konten yang visual, pemilihan diksi yang persuasif, hingga pemanfaatan kanal media sosial agar instruksi mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik tidak lagi membingungkan, melainkan menjadi panduan praktis yang solutif bagi setiap rumah tangga di Bandung.
- Peran Mahasiswa: Pendampingan dan Implementasi Ilmu
Sisi menarik dari program kolaborasi ini adalah keterlibatan mahasiswa sebagai aktor pendukung yang vital. Sulthan dan Anindya, mahasiswa dari program studi S1 Ilmu Komunikasi, hadir untuk mendampingi serta membantu kelancaran jalannya program. Peran mereka bukan sekadar urusan administratif, melainkan sebagai sarana belajar aktif (active learning) untuk melihat bagaimana sebuah kebijakan publik dikomunikasikan kepada masyarakat luas.
Bagi Sulthan dan Anindya, keterlibatan ini menjadi laboratorium nyata untuk mengamati interaksi antara birokrasi, pakar, dan kebutuhan warga di lapangan. Mereka membantu dalam proses observasi dan pengumpulan data yang dibutuhkan untuk menyusun toolkit agar lebih relevan dengan tren komunikasi masa kini, khususnya dalam menjangkau generasi muda yang lebih aktif di ruang digital. Kehadiran mahasiswa ini membuktikan bahwa sinergi pendidikan dan pengabdian masyarakat mampu memberikan dampak timbal balik yang positif baik bagi institusi maupun lingkungan sosial.
- Output Strategis: Toolkit sebagai Rujukan Nasional
Output utama dari pertemuan di Kantor DLH ini adalah terciptanya draf panduan komunikasi yang komprehensif. Toolkit ini dirancang sedemikian rupa agar dapat digunakan oleh berbagai pihak, mulai dari kader PKK, pengurus RT/RW, hingga komunitas pecinta lingkungan. Dengan adanya standar komunikasi yang jelas, setiap kampanye yang dilakukan akan memiliki resonansi yang sama, sehingga pesan “Kang Pisman” dapat tertanam lebih kuat dalam memori kolektif warga. Langkah ini diharapkan tidak hanya berdampak bagi Kota Bandung, namun juga bisa menjadi benchmark atau percontohan bagi daerah lain dalam menangani masalah sampah melalui strategi komunikasi yang terukur.
Kesimpulan
Pertemuan strategis di Ruang Rapat DLH Kota Bandung ini menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor adalah kunci utama dalam penyelesaian masalah perkotaan. Keterlibatan Fakultas Komunikasi dan Ilmu Sosial (FKS) Telkom University, yang didukung oleh dedikasi para dosen dan partisipasi mahasiswa seperti Sulthan dan Anindya, menunjukkan komitmen nyata perguruan tinggi dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Dengan rampungnya perumusan toolkit komunikasi ini, harapan besar disematkan agar masyarakat Bandung tidak lagi melihat sampah sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang bisa dikelola dengan bijak. Komunikasi yang efektif adalah langkah awal menuju perubahan budaya, dan melalui Kang Pisman, kita sedang membangun masa depan Bandung yang lebih hijau dan layak huni bagi generasi mendatang.